Apakah Anak harus Selalu Berbagi?

dokter vivi  (3)

Apakah Anak harus Selalu Berbagi?

Oleh dokter Vivi Dokter Parenting

     Pagi itu kerumunan anak-anak berkumpul bersama dirumah Icang. Semua riang gembira bermain dengan aneka mainan yang ada. Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang melengking dari salah satu anak memecah ketenangan pagi itu. Ternyata suara itu berasal dari Iqbal, bocah kecil lucu berusia sekitar dua setengah tahunan Tergopoh-gopoh ibu Iqbal mendekat dan disusul oleh ibu Icang dibelakangnya.Alhasil diketahui bahwa Iqbal menginginkan mainan yang dipegang oleh Icang akan tetapi Icang tidak mengijinkan untuk diambil Iqbal. Iqbal yang tetap berusaha mengambil mainan yang dipegang Icang menjadikan Icang  menjadi tidak sabaran dan akhirnya dengan kekuatan penuh Icangpunmendorong Iqbal agar menjauh dari mainan yang sedang dipegangnya. Tidak terima didorong maka Iqbalpun mengeluarkan sirinenya yang keras dan akhirnya membuyarkan obrolan renyah para ibu-ibu.

     Sontak karena merasa sungkan dengan ibu Iqbal, maka ibu Icangpun berkata kepada anaknya, “Icang, ayo mainannyaberbagi dong sama Iqbal”, alih-alih menuruti  Icang pun semakin erat memegang mainannya. “Icang, ayo berbagi”, suara ibu Icang mulai meninggi. Icangpun semakin erat memegang mainannya dan mulai menjauh dari ibunya yang seakan siap menerkamnya. “Icaang, ayo berbagi dong tuh lihat kasihan Iqbal jadi nangis gara-gara kamu,” ibu Icang semakin menekan anaknya.  Icangpun kemudian sontak menangis mendengar teriakan ibunya.Sebenarnya apakah anak itu memang harus selalu mau berbagi sama temannya?

     Ayah bunda, dalam tahapan perkembangan anak ada fase-fase dalam perkembangan anak yang akan dilewati oleh setiap anak. Fase –fase itu dibuat oleh Allah memiliki maksud-maksud didalamnya. Seperti yang kita ketahui bahwa fase usia 0-4 tahun seringkali disebut sebagai fase golden age. Kenapa disebut golden age? Karena pada fase ini perkembangan kecerdasan anak berkembang 50% dari keseluruhan perkembangan selanjutnya sehingga pada fase inii sangat menentukan fase perkembangan selanjutnya. Ibarat membangun rumah ini adaah fase membuat pondasinya. Bila pondasi kuat maka rumah akan kokoh apabila pondasi lemah maka rumah akan goyah.

     Pada  tahapan usia mulai sekitar 18 bulan sampai dengan 3 tahun  dikenal sebagai fase egosentris anak, dimana anak menunjukkan rasa kuat pada dirinya sebagai individu dengan menunjukkan kata “ tidak” pada permintaan orang dewasa, merasa dirinya sebagai pribadi yang penuh kekuatan, kemampuan, kreatif dam ingin esplorasi akan segala sesuatu.  Tahap perkembangan ini menjadi penting dimiliki anak diusia selanjutnya dimana anak akan bisa menolak permintaan orang lain apabila memang tidak sesuai dengan dirinya. Oleh karena itu pentingnya setiap keluarga memiliki visi kehidupan yang ditanamkann pada anak sehingga anak akan mempunyai prinsip yang jelas pada hidupnya.

     Seperti kasus kisah diatas sepertinya ibu Icang baik saat menyuruh anaknya untuk berbagi. Tetapi apabila ini sering dipaksakan kepada anak tanpa alasan yang jelas maka anak akanberpikir bahwa semuanya yang ia punyai harus dibagi.Beberapa waktu yang lalu seorang ibu muda mengadu kepada saya dan berkata, dokter, anak saya itu setiap hari barangnya selalu hilang, entah penggaris, pensil, penghapus, buku, bahkan kemarin jam baru hadiah dari eyangnya juga tidak ada. Saat saya tanya kata anak saya diminta sama temannya, dan anak saya selalu berikan walau akhirnya terkadang sampai rumah ia menangis. Gimana ini dok, kok anak saya jadi begini ndak bisa mempertahankan barang miliknya.

     Ayah bunda, pada saat kita ingin mengajarkan anak berbagi ajarkanlah dengan sabar sehingga sifat berbagi menjadi kesadaran dan akhirnya timbullah rasa ikhlas dalam berbagi bukan karena perintah atau paksaan. Apabila awal anak belum mau berbagi hormatilah. Tetapi seiring berjalannya waktu berilah ia contoh bahwa kita  juga berbagi kepada yang lain, saat kita berbagi iringilah dengan apa saja hikmahnya berbagi, Allah senang dengan orang yang berbagi, seringlah bercerita dengan buku mengenai keindahan berbagi dalam bahasa anak-anak. Berilah apresiasi kepadanya saat ia mau berbagi dengan temannya atau saudaranya. Apabila ada anak lain yang inginkan barang anak kita, terkadang kita sungkan pada ibunya jika anak kita tidak mau berbagi dengan anaknya, kita bisa katakan “maaf ya Icang sepertinya masih perlu waktu untuk berpikir, adik Iqbal mau main yang ini?, berilah alternatif kepada teman anak kita. Lewatilah setiap tahapan anak dengan pemberian pijakan agar ia memahami sesuatu dengan utuh, timbul kesadaran , timbul keikhlasan dan yang pasti ia akan mempunyai prinsip dalam hidupnya dalam hal berbagi yang porposional. Memang butuh waktu, kesabaran bagi seorang ibu dalam mendampingi anak melewati proses ini. Itulah mengapa ibu dihadahkan surga oleh Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *