Aku Tidak Pernah Bersalah

Aku tidak pernah bersalah

Oleh dokter Vivi dokter Parenting

dokter vivi (1)

     Kemarin saya menghadiri suatu acara rapat yang mengharuskan saya berangkat sendiri. Suasana hujan lebat yang disertai angin menjadikan saya menjatuhkan pilihan dengan menggunakan jasa trasportasi taxi dikarena harus membawa Kaisa kecil bersama saya. Setelah beberapa lama menunggu taxi yang ditunggupun tiba. Sayapun bergegas masuk ke dalamnya, tidak ada yang istimewa dalam taxi ini seperti taxi-taxi  pada umumnya lengkap dengan argometer dan atribut khas ketaxian.

     Lama-lama perhatian sayapun mau tidak mau menjadi memperhatikan supirnya. Si supir ini ada saja yang dibahas dengan marah-marah alias nggerundel. Akan menyeberang keluar jalan komplek saja si supir sudah menggerundel menyalahkan si satpam yang tidak mau membantu, belum lagi menggerundel  soal jalanan yang ramai sekali dengan banyaknya bus dan kendaraan yang lalu lalang yang terus saja melesat.

    Awalnya saya menanggapi dengan mengiyakan lama-lama saya terdiam. Pertama karena saya tiba-tiba migren juga mendengar keluhannya dan yang kedua semakin saya tanggapi ternyata keluhannya menjalar sampai seantero dunia. Point yang saya tangkap bahwa semua yang diluar bapak supir taxi ini salah dan yang benar adalah dirinya.

    Sayapun merenung inilah mengapa ditahapan perkembangan anak kita tidak boleh mengajarkan anak menyalahkan sesuatu atau orang lain apabila ada sesuatu yang menimpa dirinya akibat ia kurang hati-hati. Dimasa-masa anak usia dini ia terlahir secara fitrah adalah sebagai peneliti handal oleh karena itu ia akan eksplorasi segala sesuatu disekitarnya. Tidak terkecuali ia terkadang terantuk benda atau terpeleset karena kontrol geraknya masih minimal. Alangkah bijaknya apabila orang dewasa yang ada disekitarnya tidak menyalahkan keadaan dengan berkata “aduh, tiang ini nakal yah tahu adik mau lewat kok gak mau minggir hehehhe, lalu kita memukul tiang itu. Atau kita langsung pukul lantai didepan kita sambil berkata aduh nakal ya lantainya adik jadi kepeleset deh. Alangkah bijaknya bila orang dewasa sebagai fasilitator anak berkata “ pastikan aman ya kalau berjalan sehingga tidak terjatuh”. Atau”Ingat sayang kita kontrol gerak ya supaya tidak menabrak tiang”. Mulai kenalkan aturan secara bertahap,”apaila didalam ruangan kita berjalan”.

     Kita sebagai orangtua dan guru dalam kehidupan anak tentu berharap anak bisa tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dalam apa yang harus dilakukannya. Oleh karena itu kenalkan aturan secara bertahap dan kenalkann apa itu yang dinamakan konsekuenasi dalam hidupnya sehingga ia sebelum melangkah akan mempertimbangkan segala sesuatunya apakah itu baik untuk dirinya ataukah tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *